Kamis, 30 Juni 2016

TUGAS SOFTSKILL FEATURE (HUMAN INTEREST)

                                                    Kerja Keras Seorang Tukang Sampah.

            Setiap hari beliau mendorong gerobak sampah berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Untuk mengangkut sampah yang sudah menumpuk di dapur, tanpa rasa lelah beliau setiap hari mengerjakan tugasnya mengangkut sampah dari rumah warga. Walaupun lelah beliau tetap bekerja demi keluarganya di kampung, Hari itu aku memulai rutinitas pagi seperti biasa. Membangunkan si kecil, berberes rumah kemudian memasak. Memang tak ada yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya kecuali mulai tercium bau tidak sedap dari tempat sampah di depan rumah. 
           
            Sudah empat hari ini, sampah belum juga diangkut oleh petugasnya. Beberapa tetangga, seperti Bu Yati, Bu Prapti atau Tante Mega sudah mulai merisaukan kondisi RT kami. Maklumlah, sampah yang menggunung membuat kesehatan kami terganggu. Apalagi Tante Butet, sejak pagi tadi sudah memulai ceramahnya saat kami membeli sayur dari Pak Satiri. 
"Kenapa aja si Pak Utomo? Sudah empat hari sampahnya kok ga diangkut-angkut ya?" sungut Tante Butet. 

            Semenjak aku tinggal di perumahan kami, Pak Utomo sudah bertugas sebagai tukang sampah. Bisa dibilang aku termasuk orang baru, maklum kami baru tinggal sekitar empat tahun di sini. Sementara Pak Utomo sudah setia menjadi tukang sampah di perumahan kami sekitar 10 tahun, atau sejak komplek kami berdiri. 

            Dari beberapa kali perbincangan dengan Pak Utomo saat aku memintanya memangkas daun pohon belimbing sekaligus merapikan tanaman di depan rumah, aku tahu kalau ia berusia 50-an. Pak Utomo biasa mengambil pekerjaan tambahan seperti ini dari penghuni kompleks. 
Ia sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Anak terkecilnya sekarang kelas lima SD dan yang sulung kelas dua SMU. Sementara istri Pak Utomo bekerja sebagai buruh cuci dan menjual barang-barang sehari-hari di rumah kontrakan mereka. 
            Bisa dibilang kehidupan keluarga Pak Utomo demikian bersahaja. Kendati amat sulit hidup di Jakarta, bayangkan saja berapa sih pendapatan sebagai tukang sampah? Ia selalu tersenyum ramah saat bertugas mengangkut sampah kami.  Bahkan secara tidak langsung tukang sampah seperti Pak Utomo ini adalah pahlawan bagi kita lho. Bayangkan saja ancaman penyakit dari sampah yang mereka angkut. Apalagi Pak Utomo tak menggunakan perlengkapan yang memadai seperti masker, sepatu boot serta sarung tangan saat mengangkut sampah. Perlengkapannya sehari-hari ya cuma gerobak sampah, baju sehari-hari serta sendal jepit saja setiap ia berkeliling kompleks. 

            Di hari kelima, akhirnya Pak Utomo mulai mengangkut sampah kami. Spontan, tetangga-tetanggaku yang rajin berceramah itu mengerubuti Pak Utomo meminta penjelasannya. 
"Gimana sih Pak? Kemana aja empat hari ini? Sampah dah numpuk, Tau!" 
"Iya sih pak. Anakku kan bisa sakit gara-gara sampah!' 
'Bau banget pak. Sekarang aja lalatnya udah banyak banget, lihat aja tuh!" 
Pak Utomo tetap tenang, tapi perlahan air mata mengalir di pipinya. Ini pertama kalinya kami melihat ia menangis. Sontak ibu-ibu terdiam melihat air mata Pak Utomo. 
"Mohon maaf ibu-ibu. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Istri saya meninggal dunia di kampung. Dia sudah lama sakit. Saya mohon maaf karena baru bisa kembali mengangkut sampah sekarang." 
           
            Mendengar jawaban itu kami semua terkejut dan terpana. Kemarahan ibu-ibu sontak berubah menjadi simpati kepada Pak Utomo. Akhirnya setelah melalui rapat kilat, warga satu komplek yang terdiri dari beberapa RT sepakat memberikan sumbangan kepada Pak Utomo. Mungkin tak seberapa, tapi setidaknya bisa membantu meringankan bebannya.  Bak disadarkan ada beberapa tetangga yang memberikan bantuan buat dua orang anak Pak Utomo. Seperti layaknya orang tua asuh, mereka sepakat untuk membantu biaya anak-anak itu hingga lulus SMU.  Selama ini kami semua tak pernah menyadari betapa berjasanya seorang tukang sampah. Coba kalau tak ada Pak Utomo, bisa-bisa banyak keluarga yang terkena penyakit dan terganggu kesehatannya. Terimakasih Pak Utomo, baru kini aku, keluarga dan warga satu komplek menyadari kalau tukang sampah juga pahlawan tanpa tanda jasa juga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar